Jumat, 07 Juni 2013

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)


Obat AINS adalah salah satu golongan obat besar yang secara kimia heterogen menghambat aktivitas siklooksigenase, menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin dan prekursor tromboksan dari asam arakidonat Dorland, 2002). Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1899. Obat AINS yang pertama adalah asam asetil salisilat yang diproduksi oleh Felix Hoffman dari Bayer Industries. Berdasarkan saran dari Hermann Dreser, senyawa tersebut diberi nama Aspirin yang berasal dari gabungan kata bahasa Jerman untuk senyawa, acetylspirsäure (spirea = nama genus tanaman asal obat tersebut, dan Säure = asam) (Wolfe, et al., 1999; Katzung & Payan, 1998). 

Obat- Obat: Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) :
1. DERIVAT ASAM SALISILAT (ASPIRIN)
Farmakodinamik:
 * Banyak digunakan sebagai analgesik, antipiretik dan antiinflamasi. dan digolongkan dalam obat bebas.
 * Asam salisilat sangat iritatif shg hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yg dapat dipakai secara sistemik adalah asetosal.
* Efek Analgesik, aspirin paling efektif untuk mengurangi nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang
* Efek Antipiretik, aspirin menurunkan suhu yang meningkat, sedangkan
* Efek Anti Inflamasi, aspirin adalah penghambat non selektif kedua isoform COX ( Cyclooxygenase ) atau (COX-I dan COX-II * Efek Platelet, aspirin mempengaruhi hemostasis. Dosis rendah tunggal aspirin (80 mg sehari) menyebabkan sedikit perpanjangan waktu perdarahan. 
* Dapat terjadi alkalosis respiratoar yang terkompensasi: CO2 yang dihasilkan mengakibatkan perangsangan pernapasan sehingga karbondioksida dalam darah tidak meningkat. Ekskresi bikarbonat melalui ginjal meningkat disertai Na+ dan K+, sehingga bikarbonat dlm plasma menurun dan pH darah kembali normal.
* Pada orang sehat aspirin menyebabkan perpanjangan masa perdarahan. Ini disebabkan: pembentukan TX2 terhambat. Pada pemakaian obat antikoagulan jangka lama harus berhati-hati memberikan aspirin, karena bahaya perdarahan mukosa lambung. 
* Aspirin bersifat hepatotoksik, tidak dianjurkan diberikan kepada pasien dengan penyakit hati kronik. Dapat menurunkan fungsi ginjal pada pasien dengan hipovolemia atau gagal jantung. 

Farmakokinetika:
* Pada pemberian oral, sebagian besar diabsorpsi di usus halus. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Pemberian secara rektal,lebih lambat dan tidak sempurna.
* Salisilat dengan cepat diserap oleh lambung dan usus kecil bagian atas.
* Asam salisilat diabsorpsi cepat dari kulit sehat terutama bila digunakan sebagai obat gosok atau salep
* Salisilat di distribusikan keseluruh jaringan mudah menembus sawar darah otak dan sawar uri.

Indikasi:
* Sebagai obat analgetik, untuk mengobati sakit kepala, nyeri sendi, nyeri haid, neuralgia dan mialgia. 
* Sebagai antipiretik, dosis untuk dewasa ialah 325 mg-650 mg, secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk anak 15- 20 mg/kgBB diberikan tiap 4-6 jam. 
* Sebagai obat demam reumatik akut: Dosis dewasa: 5-8 g per hari, diberikan 1 g per kali Dosis anak : 100-125 mg/kg/BB/hari, diberikan tiap 4-6 jam selama seminggu. Setelah itu tiap minggu dosis berangsur diturunkan sampai 60 mg/kgBB/hari. 
* Artitis reumatoid. Selain menghilangkan nyeri, salisilat menghambat inflamasinya. Dosisnya ialah: 4-6 g/hari.
* Mencegah trombus koroner, dosis aspirin kecil(325mg/hari) yang diminum tiap hari dapat mengurangi insiden infark miokard akut
* Sebagai counter irritant bagi kulit, bentuk salep atau liniment. Efek samping : - tukak lambung atau tukak peptik - perdarahan lambung - anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna - muntah-muntah, pendengaran berkurang, tinitus dan vertigo yang reversibel - Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian. - Keracunan serius apabila jumlah yang ditelan melebihi150- 175 mg/kgBB. - Alergi terhadap salisilat - Beratnya efek samping ini berbeda pada masing-masing obat. 

2. DIFLUNISAL
* Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat.
* Bersifat analgesik dan antiinflamasi tetapi hampir tidak bersifat antipiretik.
* Indikasinya hanya sebagai analgesik ringan sampai sedang dengan dosis awal 500 mg, disusul 250-500 mg tiap 8 – 12 jam
* Efek sampingnya lebih ringan daripada asetosal dan tidak menyebabkan gangguan pendengaran.
* Para amino fenol : Fenasetin dan Asetaminofen Pirazolon dan Derivat. : dipiron, fenilbutazon, aminopirin,oksifenbutazon, antipirin dan Obat- Obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) lain : Asam Mefenamat, Diklofenak, Ibuprofen,  Kertoprofen, Naproksen, Indometasin, Piroksikam dan Meloksikam, Nabumeton, Nimesulide, COX-2 Selektif.

3. OBAT PIRAI
Obat Pirai ada 2 Kelompok,
1. Obat yang menghentikan proses inflamasi Akut : Kolkisin Fenilbutazon Oksifenbutazon Indometasin -Menghentikan proses inflamasi -Menghilangkan gejala -Terapi simptomatis 
2. Obat yang menghentikan proses inflamasi Kronis (mempengaruhi kadar asam urat) : Alopurinol Probenesid Sulfinpirazon - Menurunkan kadar asam urat - Memobilisasi asam urat - Menghambat pembentukan tofi - Menghilangkan penyebabnya -Terapi kausatip.

4. OBAT PIRAI: KOLKISIN
Farmakodinamik :
* Tidak Mempunyai efek analgesi
* Terikat pada tubulin protein intraseluler , dengan demikian akan mencegah polimerisasinya menjadi mikrotubulus dan mengarah kepada penghambatan migrasi lekosit dan fagositosis 
* Menghambat pembentukan leukotrien B4 Farmakokinetik :
* Absorpsi melalui saaluran cerna baik
* Didistribusikan secara luas dalam jaringan tubuh
* Kadar tinggi dalam ginjal, hati, limpa, dan saluran cerna
* Tidak terdapat didalam otot rangka , jantung dan otak
* Sebagian besar diekskresi melalui tinja dalam bentuk utuh hanya 10-20 % diekskresi melalui urin
* Kolkisin dapat ditemukan dalam lekosit dan urin sedikitnya untuk 9 hari setelah suatu suntikan IV.

Indikasi :
* Meredakan inflamasi dari artritis pirai akut
* Lebih disukai sebagai propilaksis kambuhnya episode artritis akut Efek samping :
* Mual, muntah, diare * Gejala saluran cerna ini tidak terjadi pada pemberian IV dengan dosis terapi * Intoksikasi akut setelah menelan dosis besar(non terapeutik) dapat berupa : - nyeri tenggorokan seperti terbakar - diare berdarah - syok - hematuria - oligouria - depresi sistem saraf pusat 

5. ALOPURINOL
Indikasi :
- untuk penyakit pirai karena menurunkan kadar asam urat - pengobatan jangka panjang mengurangi frekuensi serangan
- menghambat pembentukan tofi - memobilisasi asam urat dan mengurangi besarnya tofi

Farmakokinetik :
- Diserap dengan baik oleh saluran cerna
- Alopurinol mengalami biotransformasi oleh enzim xantin oksidase menjadi aloxantin yang masa paruhnya lebih panjang daripada alopurinol, oleh sebab itu alopurinol yang masa paruhnya pendek cukup diberikan satu kali sehari.

Efek samping :
- Reaksi kulit, bila terjadi kemerahan segera obat dihentikan - eosinofilia, artralgia, dan pruritus - gangguan saluran cerna kadang-kadang juga terjad.

Cuma sedikit pembahasan sama contoh obatnya.... hhe
tapi semoga bermanfaat :)

Kunjungi Juga:   http://www.poltekkestasikmalaya.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar