Senin, 17 Juni 2013

Mikrobiologi Dasar

 a.       Pengertian Mikrobiologi
Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu mikros = sangat kecil, bios = makhluk hidup, dan logos = ilmu. Mikrobiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk hidup yang sangat kecil dengan diameter kurang dari 1 mm yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop.   Makhluk   hidup   yang   sangat   kecil   tersebut   disebut   dengan   mikrobia,   mikroba, mikroorganisme, protista atau jasad renik, yang meliputi protozoa, algae, fungi, bakteri dan virus.
Sedangkan yang dimaksud mikroba adalah jasad hidup yang ukurannya kecil. mikroba  bukan  hanya karena  ukurannya  yang  kecil,  sehingga  sukar  dilihat  dengan  mata  biasa,  tetapi  juga pengaturan  kehidupannya  yang  lebih  sederhana  dibandingkan  dengan  jasad  tingkat tinggi. Mata biasa tidak dapat melihat jasad yang ukurannya kurang dari 0,1 mm. Ukuran mikroba biasanya dinyatakan dalam mikron (µ), 1 mikron adalah 0,001 mm. Sel mikroba umumnya   hanya   dapat   dilihat   dengan   alat pembesar   atau   mikroskop,   walaupun  demikian   ada   mikroba   yang   berukuran   besar   sehingga dapat   dilihat   tanpa   alat pembesar.
b.      Penggolongan mikroba diantara jasad hidup   
Secara  klasik  jasad  hidup  digolongkan  menjadi  dunia  tumbuhan  (plantae)  dan dunia  binatang  (animalia).  Jasad  hidup  yang  ukurannya  besar  dengan  mudah  dapat digolongkan  ke  dalam  plantae  atau  animalia,  tetapi  mikroba  yang  ukurannya  sangat  kecil   ini   sulit untuk   digolongkan   ke   dalam   plantae  atau   animalia.   Selain   karena  ukurannya,  sulitnya  penggolongan  juga  disebabkan  adanya  mikroba  yang mempunyai  sifat antara plantae dan animalia. 
Menurut  teori  evolusi,  setiap  jasad  akan  berkembang  menuju  ke  sifat  plantae  atau animalia.  Hal  ini  digambarkan  sebagai  pengelompokan  jasad  berturut-turut  oleh Haeckel,Whittaker,  dan  Woese.  Berdasarkan  perbedaan  organisasi  selnya,  Haeckel membedakan dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animalia), dengan protista.Protista untuk menampung jasad yang tidak dapat dimasukkan pada golongan plantae dan animalia. Protista terdiri dari algae atau ganggang, protozoa, jamur atau fungi, dan bakteri  yang mempunyai  sifat  uniseluler,  sonositik,  atau multiseluler  tanpa  diferensiasi jaringan. Whittaker  membagi  jasad  hidup  menjadi  tiga  tingkat  perkembangan,  yaitu: 
(1). Jasad prokariotik yaitu bakteri dan ganggang biru (Divisio Monera),
(2). Jasad eukariotik uniseluler yaitu algae sel tunggal, khamir dan protozoa (Divisio Protista) dan
(3) Jasad eukariotik multiseluler dan multinukleat yaitu Divisio Fungi, Divisio Plantae, dan Divisio Animalia.  
Sedangkan   Woese   menggolongkan   jasad   hidup   terutama   berdasarkan susunan  kimia  makromolekul  yang  terdapat  di  dalam  sel.  Pembagiannya  yaitu  terdiri Arkhaebacteria, Eukaryota (Protozoa, Fungi, Tumbuhan dan Binatang), dan Eubacteria.  
c.       Sejarah Perkembangan Mikrobiologi
1.     PENEMUAN ANIMALCULUS
Awal terungkapnya dunia mikroba adalah dengan ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek   (1633-1723).   Mikroskop   temuan   tersebut   masih   sangat   sederhana,dilengkapi     satu   lensa    dengan      jarak   fokus    yang    sangat     pendek,     tetapi   dapat menghasilkan bayangan jelas yang perbesarannya antara 50-300 kali.Leeuwenhoek melakukan pengamatan tentang struktur mikroskopis biji, jaringan  tumbuhan  dan  invertebrata  kecil,  tetapi  penemuan   yang  terbesar  adalah  diketahuinya dunia mikroba yang disebut sebagai “animalculus” atau hewan kecil. Animalculus adalah jenis-jenis  mikroba  yang  sekarang  diketahui  sebagai  protozoa,  algae,  khamir,  dan  bakteri.
2.    TEORI  ABIOGENESIS DAN BIOGENESIS 
 Penemuan  animalculus  di  alam,  menimbulkan  rasa  ingin  tahu  mengenai  asal usulnya. Menurut teori abiogenesis, animalculus timbul dengan sendirinya dari bahan-bahan  mati.  Doktrin  abiogenesis  dianut  sampai  jaman  Renaissance,  seiring  dengankemajuan pengetahuan mengenai mikroba, semakin lama doktrin tersebut menjadi tidak terbukti. Sebagian ahli menganut teori biogenesis, dengan pendapat bahwa animalcules terbentuk dari “benih” animalculus yang selalu berada di udara. Untuk mempertahankan pendapat  tersebut  maka  penganut  teori  ini  mencoba  membuktikan  dengan  berbagai  percobaan.
Fransisco  Redi  (1665),  memperoleh  hasil  dari  percobaannya  bahwa  ulat  yang  berkembang  biak  di  dalam  daging  busuk,  tidak  akan  terjadi  apabila  daging  tersebut disimpan di dalam suatu tempat tertutup yang tidak dapat disentuh oleh lalat. Jadi dapat disimpulkan bahwa ulat tidak secara spontan berkembang dari daging. Percobaan lain yang  dilakukan  oleh  Lazzaro  Spalanzani  memberi  bukti  yang  menguatkan  bahwamikroba tidak muncul dengan sendirinya, pada percobaan menggunakan kaldu ternyata pemanasan  dapat  menyebabkan  animalculus  tidak  tumbuh.  Percobaan  ini  juga  dapat  menunjukkan bahwa perkembangan mikrobia di dalam suatu bahan, dalam arti terbatas menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi pada bahan tersebut.
 Percobaan yang dilakukan oleh Louis Pasteur juga banyak membuktikan bahwa  teori   abiogenesis   tidak   mungkin,   tetapi   tetap   tidak   dapat   menjawab  asal   usul animalculus.  Penemuan  Louis  Pasteur  yang  penting  adalah  (1)  Udara  mengandung mikrobia  yang  pembagiannya  tidak  merata,  (2)  Cara  pembebasan  cairan  dan  bahan-bahan   dari   mikrobia,   yang   sekarang   dikenal   sebagai   pasteurisasi   da  sterilisasi. Pasteurisasi  adalah  cara  untuk  mematikan  beberapa  jenis  mikroba  tertentu  dengan menggunakan uap air panas, suhunya kurang lebih 62oC. Sterilisasi adalah cara untuk mematikan   mikroba   dengan   pemanasan   dan   tekanan   tinggi,   cara   ini   merupakan penemuan bersama ahli yang lain.
3.     PENEMUAN BAKTERI BERSPORA 
John     Tyndall    (1820-1893),      dalam      suatu    percobaannya   juga mendukung pendapat Pasteur. Cairan bahan organik yang sudah dipanaskan dalam air garam yang mendidih selama 5 menit dan diletakkan di dalam ruangan bebas debu, ternyata tidak akan membusuk walaupun disimpan dalam waktu berbulan-bulan, tetapi apabila tanpa pemanasan maka akan terjadi pembusukan. Dari percobaan Tyndall ditemukan adanya fase  termolabil  (tidak  tahan  pemanasan,  saat  bakteri  melakukan  pertumbuhan)  dan termoresisten pada bakteri (sangat tahan terhadap panas). 
 
        Dari penyelidikan ahli botani Jerman  yang  bernama  Ferdinand  Cohn,  dapat  diketahui  secara  mikroskopis  bahwa pada fase termoresisten, bakteri dapat membentuk endospora. Dengan  penemuan  tersebut,  maka  dicari  cara  untuk  sterilisasi  bahan  yang mengandung  bakteri  pembentuk  spora,  yaitu  dengan  pemanasan  yang terputus  dan diulang  beberapa  kali  atau  dikenal  sebagai  Tyndallisasi.  Pemanasan  dilakukan  pada suhu 1000C  selama  30  menit,  kemudian  dibiarkan  pada  suhu  kamar  selama  24  jam,cara ini diulang sebanyak 3 kali. Saat dibiarkan pada suhu kamar, bakteri berspora yang  masih  hidup  akan  berkecambah  membentuk  fase  pertumbuhan  /  termolabil,  sehingga dapat dimatikan pada pemanasan berikutnya. 
 
Semoga bermanfaat hhe... :)

Kunjungi Juga:   http://www.poltekkestasikmalaya.ac.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar